2020, Tahun Corona

Refleksi Akhir Tahun 2020.
(Tahun baru 2021 sumber)

Tahun 2020 ini tidak banyak kenangan indah atau menarik dengan teman-teman sekolah yang akan kita simpan dan rindukan,  sesuatu yang membekas pada 2020 yang membedakannya dengan 2019 dan 2018 adalah pandemi Covid-19 yang sampai meliburkan sekolah berbulan-bulan lamanya. Kecuali mungkin bagi tukang gali kubur, pandemi ini tentu saja sangat merugikan kita semua. 

Murid sekolah disibukkan dengan beragam tugas daring yang justru lebih banyak dan lebih padat  daripada saat bersekolah seperti biasa, 15 mata pelajaran yang selalu memberikan tugas sudah cukup untuk membuat murid-murid SMA  lebih merindukan masuk sekolah daripada belajar dari rumah. 
Sedangkan Guru-Guru yang telah cukup sibuk mengkoreksi puluhan pekerjaan anak-anak didiknya harus juga mendapat cibiran "makan gaji buta" dan "cuman memberi tugas tanpa mengajar".

2020 ini diawali dengan "angin segar" wacana kurikulum baru oleh Mendikbud Nadiem. Saya tidak tau persis isi dari wacana tersebut kecuali bahwa UN digantikan dengan AKM dan juga bahwa Pak Mentri ini tidak menyukai pembelajaran hapalan.
Namun karena pandemi Covid-19 ini merajalela maka terpaksa perombakan kurikulum harus diurungkan dahulu, hal yang sangat membagongkan bagi saya karena saya sudah sempat berfikir untuk mulai mencintai sekolah yang dalam bayangan saya akan memberi "kebebasan"  melalui kurikulum baru yang ditetapkan.

2020 ini juga diawali dengan bualan bapak-bapak fb  yang mempercayai Covid-19 ini tidak akan sampai menyebar ke Indonesia yang katanya bersuhu cukup panas untuk membunuh Covid-19.
Dan juga kicauan Jerinx di berbagai media sosial maupun televisi seperti Instagram dan acara kompas tv yang mengkampanyekan konspirasi WHO dan Bill Gates dibalik pandemi Covid-19. Entah benar ataupun tidak komentar Jerinx terhadap pandemi ini, sebagai warga negara yang baik kita harus mengikuti aturan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

2020 ini juga menandai berakhirnya pertempuran besar Cebong-Kampret di media sosial, Jokowi sudah menang dan Prabowo dijadikan sebagai menteri (win-win solution hehe). 

Itulah kesan saya tentang 2020, sekarang saya akan membuat resolusi tahun baru dan mencatat kembali hal baik dan tidak baik yang saya lakukan pada tahun 2020

Hal baik yang saya lakukan pada 2020
Beberapa hal positif yang telah saya lakukan pada 2020 ini adalah membaca buku dan mulai lebih sering menonton kanal youtube berisi konten yang mendidik seperti kanal Guru Gembul dan kanal youtube Martin Suryajaya daripada menonton sarkasme dan drama youtuber yang dulunya hampir setiap hari saya lakukan. 

Saya juga mulai menulis sebuah blog untuk menuangkan gagasan-gagasan saya, menulis di blog ini membantu saya menyalurkan ide-ide di pikiran saya agar tidak hilang begitu saja dan juga itung-itung sambil latihan menulis. 
Ya walaupun isinya tidak terlalu berarti, masih tulisan anak SMA yang isinya galau-galau dan sok indie.

Saya juga membaca beberapa buku di tahun 2020 ini.Saya membaca Madilog, Gerpolek dan Aksi Massa karya Tan Malaka dan juga mulai membaca-baca kembali buku-buku saya yang telah saya simpan sejak SMP.
Disamping membaca buku dalam bentuk fisik saya juga mendengarkan dua buah  audiobook yang berjudul Atomic Habits dan The Power Of Habit, keduanya adalah tentang mengatur kebiasaan. 

Saya memulai beberapa ritual baru, setelah selesai mandi dan gosok gigi saya akan berdoa dan menghidupkan lampu belajar lalu setelah berdoa saya akan membaca 2 halaman buku dan begitupula setelah selesai sembahyang siang dan sore saya selalu membaca 2 halaman buku. Kebiasaan yang aneh mungkin, tapi itulah yang disarankan oleh buku Atomic Habit dalam "aturan dua menit". 

Hal kurang baik yang saya lakukan di 2020
Beberapa hal kurang baik yang saya lakukan di 2020 adalah bermalas-malasan seharian dan tidak benar-benar melakukan apapun kecuali menulis di blog dan menonton youtube.

Saya juga merasa kurang baik dalam memahami buku yang saya baca, ketika pesanan buku saya telah datang maka saya ingin sekali menghabiskan secepat mungkin buku-buku itu. Saya menghabiskan 800 an halaman buku kurang dari seminggu sejak buku itu datang namun saya tidak dapat benar-benar ingat apa isi buku yang saya baca.

Saya sering mencontek tugas teman saat pembelajaran jarak jauh berlangsung, saya terlalu malas untuk belajar pelajaran yang tidak saya senangi.

Saya seringkali berdebat kusir di internet selama berjam-jam, saya merasakan itu adalah hal yang menyenangkan sampai suatu ketika saya kalah berdebat dengan seorang pelajar filsafat. Nimbrung ditempat orang-orang yang memang kerjanya hanya berdebat setiap waktu itu membuat saya tidak ingin lagi meladeni orang yang suka berdebat kusir di Internet dan juga kehidupan nyata.

Hal yang ingin saya lakukan di 2021
Hal-Hal yang ingin saya lakukan di 2021 adalah membaca kembali buku-buku lama saya dan menuliskan kembali di blog pribadi saya dengan pemahaman saya sendiri sehingga saya bisa mengingat isi buku-buku itu dengan lebih baik.
Saya akan membaca buku buku itu satu bab setiap minggu dan menulis ulang di blog setiap sekali seminggu juga.

Saya ingin memulai belajar pelajaran yang tidak saya senangi, dimulai dari satu sub-bab per hari.


Akhir kata, itulah beberapa catatan saya untuk tahun 2020. Semoga saja di tahun 2021 pandemi Covid-19 ini sudah berakhir dan kita bisa beraktifitas seperti biasa kembali.

Happy New Year!