Mengapa Berhenti Pada Seks? (bagian 1)

 

Pendahuluan 
Disekolah-sekolah anda mungkin pernah mendengar ceramah tentang bahaya seks bebas, biasanya anda akan diberitahu  bahwa seks bebas bisa menyebabkan anda tertular suatu penyakit berbahaya dan merusak masa depan anda, "ketika temanmu menggendong tas sekolah kamu hanya bisa menggendong anak" kalimat seperti itulah yang sering saya dengar dari guru-guru saya disekolah.

Seks sepertinya memang sesuatu yang tidak ada habisnya, situs-situs video dewasa semakin marak berkembang dan bermunculan disertai juga dengan upaya kuat pemerintah dan beberapa orang religius untuk menjauhkan anak-anak muda dari kecanduan menonton video-video dewasa tersebut. 

Upaya-upaya yang dilakukan cukup beragam mulai dari memblokir situs-sius porno sampai yang paling unik yaitu mengunggah video ceramah seorang ahli agama di situs porno.Cara pertama tentu saja tidak berhasil karena kebanyakan orang pasti sudah mengenal vpn dan dapat menggunakannya untuk menangani pemblokiran oleh pemerintah, sedangkan untuk yang kedua saya tidak mengetahui apa dampaknya. Bisa jadi cara kedua itu berhasil sehingga mengunggah video ceramah di situs dewasa bisa menjadi solusi yang tepat,oleh karena itu marilah kita sebagai orang beriman mengunggah video ceramah dan ayat-ayat suci sebanyak-banyaknya di situs-situs dewasa sehingga situs-situs itu dipenuhi dengan video-video ceramah agama :). 

Kecuali untuk alasan kesehatan, kekhawatiran terhadap maraknya situs dewasa dan seks bebas ini adalah kekhawatiran yang tidak perlu. Dan mungkin itu juga yang akan anda dapati ketika anda menanyakan sendiri kepada orang-orang disekitar anda tentang pendapat mereka mengenai hal ini. Saya pernah mendengar  guru saya sewaktu smp mengisahkan hukuman adat bagi orang yang melakukan hubungan seks diluar pernikahan, pelaku seks diluar pernikahan akan diusir dari  desa karena dianggap membuat desa tidak suci lagi. Sekarang hukuman semacam itu sudah tidak ada lagi, bahkan saya menemukan orang-orang sudah tidak terkejut lagi ketika mendengar seseorang menikah dalam keadaan hamil. 

Beberapa orang mungkin akan menyebut fenomena ini sebagai degradasi moral. Namun bagi saya tidak ada sesuatu seperti degradasi moral, moral dibentuk  oleh masyarakat sendiri atas pertimbangan untung rugi dan wajar saja jika moral itu berubah seiring perubahan jaman. Pada jaman dahulu seks diluar pernikahan dianggap melanggar moral karena seks pada masa itu  berarti kehamilan, dan kehamilan diluar pernikahan sangat merugikan pihak perempuan. 

Pada saat kebanyakan orang masih miskin dan sering kelaparan, memiliki anak perempuan yang hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya tentu merupakan  masalah yang besar sehingga orang-orang akan mengutuk tindakan semacam itu. Akan tetapi pada masa sekarang manusia telah mampu memisahkan antara seks dengan kehamilan sehingga jika seseorang dimasa sekarang melakukan seks diluar pernikahan,hal itu tidak akan merugikan  siapapun karena seks tidak harus diikuti dengan kehamilan.