Mengapa Berhenti Pada Seks? (bagian akhir)

 




Memisahkan antara berketurunan dengan mengurus anak.

Akhirnya kita sampai kepada maksud dari tulisan "mengapa berhenti pada seks" ini setelah dua buah tulisan awal. 
Kondom adalah alat yang cemerlang karena mampu memisahkan seks dengan berketurunan, hal ini memungkinkan orang untuk terlepas dari tanggung jawab berkeluarga ketika seseorang memang hanya melakukan hubungan seksual untuk keinginan pribadinya saja tanpa niatan untuk berkeluarga atau mengurus anak. Jika tidak ada kondom maka akan lebih banyak anak yang lahir dikeluarga yang tidak harmonis, hal ini  karena ayah dan ibu mereka mungkin  menikah hanya karena si ibu terlanjur hamil, tanpa pengambilan keputusan yang matang. Dengan kondom, seseorang tidak harus menikah hanya karena ingin berhubungan seksual dan itu membuat pernikahan tidak hanya didasari keinginan untuk berhubungan seksual semata.


Menikah dan mempunyai keturunan  tidak menjamin orang tua paham cara mendidik anak secara benar, setidaknya itulah yang saya amati pada kedua orang tua saya. Orang tua saya seringkali memperlakukan anak-anaknya hanya berdasaran mood mereka saja, tanpa pernah berpikir apa dampak dari sikap mereka yang seperti itu.
Saat orang tua saya memiliki masalah, mereka akan terus menerus memarahi siapa saja yang ada didepannya meskipun jika masalah yang mereka hadapi tidak ada hubungannya dengan orang lain atau dengan kata lain masalah yang mereka buat sendiri. 
Begitupun dengan pendidikan, orang tua saya selalu acuh tak acuh dengan urusan sekolah saya, mereka bahkan tidak mengetahui saya sudah naik kelas. Mereka tidak pernah bertanya apa rencana kuliah saya atau apa pelajaran yang paling saya senangi, mereka bahkan tidak peduli saat saya minta mereka untuk sekedar  mematikan musik karena saya sedang mempersiapkan tes. 

Namun saya menganggap hal itu wajar saja karena usia ibu saya adalah 16 tahun ketika menikah, yang artinya dia memang belum siap menjadi orang tua. Saya mendengar sepupu saya pernah mengeluh terhadap sikap orang tuanya yang mirip seperti sikap orang tua saya, jika banyak orang tua ternyata sama saja seperti sikap orang tua saya maka itu merupakan sesuatu yang buruk. 

Anak-anak akan meniru sikap orang tua dan orang di sekitar mereka, entah itu baik atau buruk. Anak yang tumbuh dengan orang tua pemabuk dan lingkungan pemabuk sangat mungkin akan tumbuh menjadi pemabuk juga. Begitupun anak yang lahir dikeluarga yang baik-baik saja akan lebih mungkin tumbuh menjadi orang yang baik.

Jika anak-anak dipisahkan dari orang tua mereka sejak kecil lalu dididik di sebuah gurukul bukankah itu sesuatu yang bagus?. Di gurukul (atau ashram dan semacamnya), anak-anak akan diurus oleh orang-orang yang memang sudah ahli dalam mengurus dan mendidik anak-anak sehingga jika seorang anak dilahirkan oleh orang tua yang kurang baik dalam mendidik anak (hal itu mungkin karena faktor lingkungan atau pendidikan) atau di lingkungan yang buruk, mereka tidak akan serta merta mengikuti sikap orang tua dan lingkungan mereka yang kurang baik itu. Mereka akan tumbuh sebagai orang baik karena sedari kecil  telah dilatih untuk menjadi orang baik. Mereka akan berbaur dengan anak-anak dari latar yang beragam sehingga mereka sudah terlatih untuk menghargai orang lain sedari kecil tanpa memandang latar belakang orang tersebut.

Jadi mengapa berhenti dengan memisahkan seks dengan berketurunan? mengapa tidak memisahkan berketurunan dengan mendidik anak? bukankah mendidik anak juga sesuatu yang tidak mudah?.